Langsung ke konten utama

Pesan Tata Kota dari Sang Sunan

Pesan Tata Kota dari Sang Sunan - Alun Alun Gresik


Seni merupakan suatu idea atau gagasan yang diaplikasikan dalam sebuah karya , tak terkecuali seni bangunan dan tata kota yang umumnya identik tersebar di Jawa dan Madura. Dengan mayoritas penduduknya beragama Islam, maka tak dapat dipungkiri banyak seni bangunan tata kota yang mendapat pengaruh kebudayaan Islam. Para penguasa kala itu banyak yang mengikuti cara Sunan Giri dan Sunan Kalijaga dalam pembangunan tata kota.
Teknik bangunan kabupaten atau kota biasanya terdiri dari Istana, Alun – alun, Pohon Beringin, dan Masjid. Letaknya sangat teratur serta memiliki makna serta pesan moral dalam proses penataannya.

Alun – alun berasal dari kata “Allaun” artinya banyak macam dan warna, diucapkan dua kali “Alaun-allaun” yang menunjukkan maksud tempat bersama ratanya segenap rakyat dan penguasa di pusat kota. Tak jauh dari kediaman penguasa yang letaknya di pusat kota biasanya terdapat pohon Waringin atau lebih dikenal dengan sebutan pohon Beringin. Waringin berasal dari kata “Waraa’in” yang artinya orang yang sangat berhati-haiti-hati.

Orang-orang yang berkumpul di Alun-alun itu diingatkan untuk sangat berhati-hati dalam memelihara dirinya dan menjaga segala hukum atau undang-undang, baik hukum Negara ataupun hukum agama yang dilambangkan dengan pohon beringin yakni Al Qur’an dan Al Hadist. Alun-alun  biasanya berbentuk segi empat hal ini dimaksudkan agar dalam menjalankan ibadah seseorang haruslah berpedoman terhadap syari’at, hakikat, tariqat, dan ma’rifat. Maka tidak dibenarkan hakikat saja tanpa mengamalkan syari’at agama Islam. Untuk itu didekat Alun-alun pasti disediakan Masjid sebagai pusat kegiatan ibadah.

Letak istana, kantor kabupaten, dan pendopo biasanya berhadapan dengan Alun-alun dan pohon beringin. Selain itu menghadap ke laut dan membelakangi gunung. Hal ini sebagai pesan bahwa penguasa harus menjauhi kesombongan, sedang menghadap laut mengandung pesan bahwa penguasa hendaknya berhati pemurah dan pemaaf seperti luasnya lautan.

Sedangkan Alun-alun dan pohon beringin yang berhadapan dengan istana atau kabupaten memiliki pesan bahwa penguasa harus selalu mengawasi jalannya undang-undang dan rakyatnya. Dalam catatan sejarah di Gresik terdapat tiga Alun-alun utama, diantaranya Alun-alun Giri  di masa Kesunanan Giri “ Giri Kedaton”, Alun-alun Sidayu di masa Kesepuhan Sidayu, dan Alun-alun Gresik saat ini.
Refrensi :
Mbah Rahimsyah. 2002. Kisah Wali Songo. Surabaya : Amanah
Wahyu Firmansyah
Akun Instagram : @wahyufirsyah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Turun Drastis hingga 70 Persen, Ini Strategi Rahasia Kabupaten Gresik Tekan Angka Pernikahan Dini demi Selamatkan Masa Depan Anak

INIGRESIK.COM - Angka permohonan dispensasi kawin atau pernikahan dini di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, mengalami penurunan yang sangat tajam hingga pertengahan tahun 2026 ini jika dibandingkan dengan periode tahun-tahun sebelumnya. Berdasarkan data resmi dari Pengadilan Agama Kabupaten Gresik, sepanjang tahun 2025 lalu tercatat ada sebanyak 170 kasus permohonan pernikahan di bawah umur yang diajukan oleh masyarakat.  Sementara itu, memasuki pertengahan tahun 2026, jumlah pengajuan dispensasi tersebut berhasil ditekan secara signifikan dan berada di kisaran 50 perkara saja. Langkah taktis pemerintah daerah yang berkolaborasi dengan berbagai instansi hukum menjadi kunci utama di balik keberhasilan memangkas angka perkawinan anak di wilayah tersebut. Pemerintah Kabupaten Gresik melalui Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak secara masif terus memperkuat berbagai upaya pencegahan di lapangan untuk memastikan tren positif ini tetap terjaga. Penurunan ya...