Langsung ke konten utama

DAMAR KURUNG (The Lampions Artwork) Versi Gresik Yang Mendunia

DAMAR KURUNG (The Lampions Artwork) 

DAUN Children Art School, Indonesia 
Category: Kindergarten-Primary-Secondary --- 
Karya seni instalasi dari DAUN Children Art School (DAUN Sanggarlukisanak), berupa lampion bergambar berbentuk kubus bahan kertas ukuran 30x30 Cm rangka kayu. Gambar lampion dilukis secara manual dengan drawing pen, cat air, acrylic dan crayon. 

Lampion ini berjumlah 9 pcs, masing-masing tersusun atas 4 panel gambar, satu lamion satu tema, yang apabila dinikmati secara berputar searah jarum jam maka ia akan menampikan sebuah rangkaian cerita seperti komik yang bercahaya. Jumlah 9 lampion melambangkan Walisongo yakni 9 orang pencipa pertama kali tradisi lampion bergambar di Indonesia tetatnya di pesisir utara Jawa pada abad ke 11 M, dengan nama lokal DAMAR KURUNG. 

Tradisi yang telah punah 10 tahun lalu ketika pelukis damar kurung yang terakhir yakni seorang perempuan tua berusia lebih dari 80 tahun meningal dunia di Gresik, Jawa Tiimur, Dan melalui penelitian selama lebih dari 20 tahun sebelum dan setelah tradisi ini dinyatakan punah, DAUN Children Art School menampilkan secara kontemporer dalam bentuk karya seni rupa instalasi. Lukisan lampion total 36 panel (9 lampion x 4 lukisan) dikerjakan oleh siswa-siswi DAUN berusia 5 sampai 16 tahun. Satu lampion ada yang dikerjakan oleh satu anak, ada juga yang dikerjakan bersama-sama dua atau tiga atau empat anak. 9 tema lukisan dalam 9 lampion ini adalah: 

1. Public Transportation 
2. Traffic 
3. Traditional Games 
4. Children Playing 
5. Beach 
6. Market 
7. Ramadhan 
8. Journey 
9. Pelm Trees 

Jika semua lampion ini dirangkai menjadi sebuah cerita, maka dimulai dari keberangkatan sampai hutan yang terbakar, membawa sebuah pesan tentang pentingnya upaya penyelamatan hutan di Indonesia sebagai paru-paru dunia, yang saat ini justru sebagian besar telah berubah menjadi kebun kelapa sawit. setiap lukisan pada lampion sebenarnya menyipan simbol-simbol, diantaranya: - tanda panah adalah simbol objek bergerak (moving) dan arah angin - 3 titik piramida terbalik adalah simbol diam, tenang atau objek yang tidak banyak bergerak - setiap figure manusia wajahnya dibiarkan tanpa warna sehingga bercahaya adalah simbol bahwa setiap orang sesungguhnya baik - setiap objek makhuk hidup digambar dalam posisi menyamping adalah simbol bahwa kita semua sebenarnya saling terhubung dan mestinya saling memperhatikan satu sama lain 


PROFIL DAUN (Duta Alam Untuk Lingkungan)

DAUN didirikan oleh Arik S. Wartono, seorang seniman (pelukis, fotografer, penulis) dan aktifis lingkungan pada HARI BUMI tanggal 22 April 2004. Pada awalnya DAUN merupakan lembaga advokasi non-profit yang mengangkat isu-isu lingkungan di Gresik dan sekitarnya, yang kemudian lebih berkonsentrasi pada program pendidikan lingkungan terutama yang ditujukan untuk anak-anak khususnya para pelajar. Pada perkembangan selanjutnya, DAUN mengembangkan divisi baru yaitu sanggar lukis anak yang diawali dengan kegiatan pendirinya memberikan les privat melukis untuk anak-anak di wilayah Surabaya, Gresik, Sidoarjo dan sekitarnya. 

Sanggar ini dalam 10 tahun telah berhasil mengantarkan sekitar 100 anak didiknya menjuarai berbagai kompetisi melukis tingkat internasional lebih dari 160 juara yang diselenggarakan oleh lembaga PBB, Negara, organisasi internasional dan perusahaan multinasional. Juga telah mewakili Indonesia dalam berbagai pameran internasional Inggris, Russia, Australia, Jerman, Prancis, Kanada, USA, Polandia, Macedonia Turki, Jepang, Hongkong dll 

Saat ini DAUN telah menjadi sebuah padepokan seni untuk dunia yang hijau, tempat bertemunya upaya-upaya pelestarian lingkungan hidup dengan aktifitas seni dan budaya. Padepokan seni DAUN berpusat di Gresik: 

Perumahan Banjarsari Asri VI No. 28, desa Banjarsari, kecamatan Gresik, Jawa Timu 61171 INDONESIA Tlp. 03171177447, 08121630334 PIN BB: 2813A4BD 
Email: daunsanggarlukisanak@yahoo.com arik.wartono@gmail.com daun.malang@gmail.com 

Saat ini DAUN sedang proses membangun DAUN Minigallery, yang dirancang menjadi gallery seni khusus untuk anak yang pertama di Asia Tenggara, gallery seni yang terutama akan menjadi tempat memamerkan karya-karya terbaik anak-anak DAUN, sekaligus wahana belajar seni (Art) bagi anak Indonesia dan dunia



 sumber : Arik S. Wartono


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Nama Desa "Karangpoh"

Karangpoh Penamaan desa karangpoh hampir mirip dengan sejarah Penamaan desa Karangturi . Dahulu diceritakan dalam buku berjudul "Sekelumit asal usul nama desa" yang ditulis oleh Loemaksono menceritakan Daerah disekitar Gresik banyak pohon Mangga. Pohon ini dijaga dengan baik oleh masyarakat disana dan dijadikan sebagai mata pencaharian  Penamaan Karang Poh ini tidak lepas dari proses berbuah pohon mangga yang senantiasa mengeluarkan bau harum ketika mulai ranum. Orang jawa menyebut buah mangga yang mulai ranum ini dengan " poh" . Ketika kulit poh yang mulai menguning inilah para petani mulai memanennya. dan dikumpulkan kedalam wadah besar yang terbuat bernama bojog .  Sebagai pegingat dan kenang kenangan tempat ini sekarang dinamai Karang Poh.yang berarti tempat atau hunian yang banyak dijumpai pohon mangga dan orang berjualan poh. Kondisi sekarang tentu sudah banyak berubah kita akan sangat sulit menemukan pohon mangga disana, hanya dibeberapa rumah pe...