Langsung ke konten utama

"Gresik dalam Ungkapan"

Suasana Pelabuhan Bongkar Muat Gresik
“Andai Jakarta adalah otaknya, Surabaya adalah jantungnya, maka Gresik adalah hatinya”. Ungkapan diatas bukan sesuatu yang berlebihan untuk sebuah kota pesisir di utara Jawa Timur. Gresik, sebuah kota yang telah menyandang status “Kota Santri”, “Kota Wali”, “Bumi para Wali”, dan sebagainya telah menjadi gerbang masuknya agama Islam di Nusantara abad ke-10 masehi. Hal ini bisa dibuktikan dengan prasasti makam Sayyidah Siti Fathimah binti Maimun seorang pendakwah yang masih keturunan Rasulullah SAW, selain itu terdapat hampir 300-an makam para Waliyullah yang telah teridentifikasi, secara otentik masih terus dikembangkan dan tidak akan menutup kemungkinan akan terus bertambah. 

Menginjak abad ke-21, Gresik telah berkembang menjadi kota industri. Modernisasi tak dapat dihindarkan lagi baik dari segi tekhnologi, sosial, dan budaya. Namun kereligusan serta budaya islami warganya ternyata masih tetap terjaga dengan baik terutama di daerah pusat kota (Alun-alun Gresik dan sekitarnya), Giri, Manyar, Sidayu, dan beberapa permukiman penduduk lokal asli Gresik lainnya. 

Menengok salah salah satu pusat peradabaan Islam di Timur Tengah, tepatnya di kota “Ilmu” Tahrim, Yaman. Disana tercatat sebagai kota dengan makam para Ulama terbanyak di dunia terhitung hampir ratusan ribu, serta ribuan ulama yang masih hidup dan aktif berdakwah. Hal ini ternyata juga terjadi di Gresik, selain terdapat sejumlah makam para Waliyullah, di banyak tempat masih sangat mudah ditemukan pusat pendidikan agama baik berupa pesantren maupun sekolah formal berbasis agama Islam. Banyak diantara Ulama di kota Gresik yang belajar agama Islam di luar negeri, salah satunya sebagai santri Abuyya Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki Al Hasani. Beliau merupakan Ulama besar dari Saudi Arabia, santrinya tersebar di hampir seluruh belahan dunia tak terkecuali di kota Gresik. Selain itu masih banyak Ulama Gresik yang menimbah pengetahuan ilmu agama di negeri Yaman, Irak, dan sebagainya. 

Usia Gresik yang mencapai 528 tahun (9 Maret 1487 - 9 Maret 2015) telah dikenal sebagai kota berakhlaq dan beriman jauh sebelum istilah Gresik itu sendiri. Dengan meneladani Rasulullah SAW yang juga telah didampaikan oleh para Ulama, terkhusus Gresik sebagai kota dengan jumlah makam para Ulama yang sangat banyak diharapkan kedepannya Gresik menjadi yang terdepan dalam pembinaan akhlaq dan moral, menjadi pelopor bangsa dalam menghadapi krisis akhlaq dan moral. “Ulama adalah pewaris para Nabi” (HR. At-Tirmidzi dari Abu Ad-Darda RA) 

 Wahyu Firmansyah 
akun IG : @wahyufirsyah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kampung Berwawasan Pendidikan Gresik

DASAR PEMIKIRAN Perubahan selalu dialami oleh semua, baik individu maupun organisasi, tidak ada satupun individu dan organisasi di dunia ini yang tidak mengalami perubahan, bahkan gelombang perubahan makin tak terbendung. Dengan kemajuan teknologi informasi, organisasi kini berada pada lingkungan dinamis dan penuh persaingan. Hal tersebut menuntut individu dan organisasi untuk menyesuaikan cara-cara berusaha dan mencapai tujuan yang diinginkan. The Constant is change , itulah bahasa yang tepat untuk menggambarkan sifat perubahan itu sendiri. seakan-akan mengikuti sabda alam, semua hal mengalami perubahan, apakah berangsur-angsur ataukah drastis. Perubahan itu dapat berupa perubahan kemampuan pengetahuan, perubahan mental, perubahan lingkungan dan yang jelas perubahan itu pasti terjadi mau tidak mau, suka tidak suka. Untuk itu sebagai bagian dari masyarakat sudah seharusnya melibatkan diri dalam usaha pencerahan, pemberdayaan, pendampingan, pengabdian bagi p...