Langsung ke konten utama

Benarkah Kyai Sindujoyo Santri Sunan Prapen ?

Kyai Sindujoyo yang bernama asli Bangaskarto adalah putra Kyai Kening dari Dusun Kelating, Lamongan. Beliau merupakan salah satu santri Syekh Maulana Fatichal (Sunan Prapen). Pada mulanya Abdullah salah seorang santri sekaligus calon menantu Sunan Prapen terbunuh oleh petinggi Desa Kelating akibat kesalah fahaman. Abdullah dicurigai sebagai pelaku teluh atau tenung, padahal kehadirannya di Desa Kelating sekedar singgah karena larut malam dalam usaha menempuh perjalanan pulang ke Cirebon dengan maksud akan menyampaikan pesan Sunan Prapen pada Ayah dan Ibunya agar segera meminang putrid Sunan Prapen untuk dirinya. 

Abdullah terbunuh ketika sedang menjalankan Sholat bersama sepupuhnya yang bernama Sahid. Beruntung Sahid meloloskan diri. Hal ini ditenggarai akibat gerakan Sholat merupakan hal yang aneh bagi masyarakat Desa Kelating yang dianggapritual ilmu hitam, bahkan gerakan sujud dianggap seperti celeng (babi Ngempet). Hal ini disebabkan ajaran islam belum sampai merambah di desa ini, sehingga lihat orang sholat disamakan denga orang sedang melakukan “teluh” atau santet. 

Berita terbunuhnya Abdullah oleh petinggi Desa Kelating telah disampaikan pada sunan Prapen oleh Sahid yang lolos dari maut akibat keberingasan warga Desa Kelating. Mendengar peristiwa itu Sunan Prapen menyesalkan dan marah kepada petinggi desa kelating. Sunan Prapen mengutuk warga Kelating sebagai manusia yang gemar makan daging celeng. Akibat peristiwa ini Bangaskarto memutuskan meninggalkan desa dan berguru kepada Sunan Prapen. Saat di Pondok Sunan Prapen, Bangaskarto tinggal sekamar bersama Imam Sujono, beliau merupakan putra Kyai Kadim dari Desa Pening, Mojokerto. 

Selanjutnya, Bangaskarto dan Imam Sujono diutus untuk membantu Amangkurat dalam menyelesaikan kemelut dengan Tumenggung Banyumas yang dianggap tidak patuh dengan kebijakan Amangkurat. Ditengah perjalanan menghadap Sunan Amangkurat mereka bertemu dengan kakak beradik yang beranama Salam dan Salim. Hingga akhirnya mereka berempat diberi tugas untuk menangkap tumenggung Banyumas yang sakti mandra guna. 

Atas keberhasilan menangkap Tumengung Banyumas, mereka disambut gembira oleh Amangkurat yang merupakan Raja Mataram dan mereka diberi ratusan Kerbau yang pada akhirnya ditolak dan diminta untuk disedekahkan kepada rakyat yang membutuhkan. Salah satu kerbau bule kurus diminta untuk dijadikan sampan diatas arus Bengawan Solo. Melihat tindakan yang aneh Raja Amangkurat member julukan “Sindujoyo” pada Bangaskarto, “Surogarjito” pada Imam Sujono, serta “Tirto Asmoro” pada Salam dan “Ening Asmoro” pada Salim. 

Dari kartosuro mereka berempat di dalam perut kerbau bule selama 40 hari sesuai arus Bengawan Solo. Ketika di Desa Palangtrepan, Surogarjito memutuskan tinggal di desa ini,. Tirto Asmoro dan Ening Asmoro memutuskan untuk menuj ke arah lain, sedangkan Sindujoyo kembali masuk ke perut kerbau bule mengikuti arus Bengawan Solo hingga sampai di Desa Druyung. Selanjutna beliau keluar dan berjalan ke timur dan tinggal di desa Roomo, Manyar. Setelah beberapa lama, Kyai Sindujoyo menian dengan Nyai Pesalatan dan dikaruniai beberapa anak. Bekerja sebagai nelayan, beliau berjalan di air hingga ke Pulau Mengare. 

Sumber : Manuskrip Serat Sindujoyo Karangan Ki Tarub Agung tahun 1778 S/ 1856 M

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Nama Desa "Karangpoh"

Karangpoh Penamaan desa karangpoh hampir mirip dengan sejarah Penamaan desa Karangturi . Dahulu diceritakan dalam buku berjudul "Sekelumit asal usul nama desa" yang ditulis oleh Loemaksono menceritakan Daerah disekitar Gresik banyak pohon Mangga. Pohon ini dijaga dengan baik oleh masyarakat disana dan dijadikan sebagai mata pencaharian  Penamaan Karang Poh ini tidak lepas dari proses berbuah pohon mangga yang senantiasa mengeluarkan bau harum ketika mulai ranum. Orang jawa menyebut buah mangga yang mulai ranum ini dengan " poh" . Ketika kulit poh yang mulai menguning inilah para petani mulai memanennya. dan dikumpulkan kedalam wadah besar yang terbuat bernama bojog .  Sebagai pegingat dan kenang kenangan tempat ini sekarang dinamai Karang Poh.yang berarti tempat atau hunian yang banyak dijumpai pohon mangga dan orang berjualan poh. Kondisi sekarang tentu sudah banyak berubah kita akan sangat sulit menemukan pohon mangga disana, hanya dibeberapa rumah pe...