Langsung ke konten utama

Kisah Nyai Ageng Pinatih Ibunda Sunan Giri

Nyai Ageng Pinatih merupakan seorang muslimah yang taat beragama serta pedagang sukses yang sangat dermawan, memiliki beberapa nama lain seperti Nyai Ageng Samboja, Nyai Gede Pinatih, Nyai Ageng Maloka, Nyai Salamah, dan Nyai Gede Tandes. 

Ayahanda Nyai Ageng Pinatih merupakan utusan yang diangkat oleh Majapahit di Palembang untuk mengurus soal keagamaan dan administrasi kenegaraan di Palembang setelah jatuhnya kerajaan Sriwijaya. Pada tahun 1407 M, Dinasti Ming merestui dan memberi pengakuan bahwa beliau adalah seorang agamawan sekaligus negarawan di Palembang. 

Setelah ayahnya wafat, jabatan ayahnya diganti oleh anaknya yang kedua. Hal ini dikarenakan Nyai Ageng Pinatih sebagai anak pertama adalah seorang wanita. Ketika hijrah dari Palembang ke Gresik sekitar tahun 1413 M, Majapahit bersimpati dan mengangkat Nyai Ageng Pinatih sebagai Syahbandar ketiga di Gresik setelah wafatnya Syekh Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) sebagai Syahbandar pertama dan Sayyid Ali Murtadho “Raden Santri” (Sunan Gisik) sebagai Syahbandar kedua. 

Nyai Ageng Pinatih merupakan ibunda asuh Syekh Maulana Ainul Yaqin (Sunan Giri). Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa orang dekat beliau Syekh Muhammad Shobar dan Syekh Muhammad Shobir menemukan peti berisi bayi di tengah laut ketika hendak berdagang ke Bali. Selanjutnya oleh Nyai Ageng Pinatih bayi tersebut diasuh dan diberi nama Joko Samudro. 

Menurut catatan sejarah, Nyai Ageng Pinatih yang mengasuh dan menyusui Joko Samudro. Hingga saat ini tempat menyusuinya dikenal dengan kampung pesuson atau lebih dikenal Kebungson. Sekitar tahun 1443 M, Nyai Ageng Pinatih yang berusian 30 tahun menemukan sekaligus menyusui Joko Samudro di Gresik. Selanjutnya Nyai Ageng Pinatih memberikan pendidikan agama melaui Sunan Ampel di Pondok Ampeldenta Surabaya. Oleh Sunan Ampel, Joko Samudro diberi nama Raden Paku. 

Sekitar tahun 1462 M, Nyai Ageng Pinatih menikahkan Raden Paku (Sunan Giri) dengan Nyai Murtosiyah binti Sunan Ampel dan juga dipinang Sunan Bungkul untuk menikahi putrinya yang bernama Nyai Wardah. Pernikahan tersebut dilaksanakan di Masjid Sunan Ampel Surabaya. Nyai Ageng Pinatih wafat pada 12/13 Syawal tahun 1478 M dan dimakamkan di Desa kebungson (100 meter utara Alun-alun Gresik).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Damar Kurung Gresik Tembus Kemasan Teh Botol Sosro, Nyala Budaya Lokal Kini Hadir di Jutaan Tangan

INIGRESIK.COM - Siapa sangka, seni tradisi khas Gresik yang identik dengan lentera malam Lebaran kini ikut menyapa masyarakat luas lewat cara yang tak biasa. Di tangan M Anhar Chusnani , damar kurung melompat dari ruang pameran dan panggung lokal, menuju rak minimarket dan meja makan keluarga Indonesia melalui kemasan Teh Botol Sosro edisi khusus 2025 . Langkah ini bukan sekadar kebetulan. Sejak Februari 2025, Anhar bersaing dengan lebih dari 5.000 peserta dalam kompetisi desain kemasan bertema “Kebaikan untuk Sesama” . Karya damar kurungnya berhasil lolos berlapis seleksi: dari 22 ilustrator terbaik hingga akhirnya masuk dalam 8 desain yang diproduksi massal . Puncaknya, ia menerima penghargaan langsung dari Sukowati Sosrodjojo , pemilik Teh Botol Sosro, dalam seremoni Jakarta Illustration Fair, September 2025 . Lebih dari sekadar ornamen visual, Anhar membawa damar kurung sebagai pesan budaya khas Gresik yang layak hadir di ruang sehari-hari. . Tak berhenti di situ, prestasi ...