Langsung ke konten utama

Latar Historis Kuliner Gresik Bubur Harisah

Kuliner Bubur Haris ternyata cukup menarik jika ditarik latar historisnya, setidaknya ada dua referensi yang sempat kami temukan yaitu jurnal dari Unesa dan buku badhogan Gresik yang membahas tentang makanan khas ini

Hasil penelitian menunjukkan bahwa bubur harisah diproduksi secara turun menurun sejak awal haul Mbah Sholeh Tsani hingga haul pada tahun ini, meskipun pemangku Pondok sudah berganti akan tetapi makanan tersebut tetap menjadi sajian makanan wajib. 

Dalam pembuatan, dibutuhkan: 22kg daging domba, 12kg gandum, 6kg beras, 500gram garam, 2kg serai, 2.5kg jahe, 2kg bawang merah, 1kg bawang putih, 1kg ketumbar, 600gram jintan, 300gram kapulaga, 700gram merica, 100gram cengkeh, 300gram kayu manis dan 70 liter air mineral. 

Bubur harisah dimasak selama 12 jam, dengan cara penyajian diletakkan di dalam wadah yang terbuat dari daun lontar. Bubur harisah mempunyai makna mendapatkan keberkahan dari Mbah Sholih Tsani, serta ada makna kebersamaan dalam setiap proses pelaksanaan haul, tidak lupa dengan makna yang lain yaitu suatu pemberian seseorang bisa dikatakan shadaqah atau kedermawanan. Disarankan bagi Pondok Pesantren untuk memberikan dapur khusus dalam proses produksi bubur harisah.  

 
Beberapa lokasi yang menyediakan Bubur Harisah antara lain H Sutrisno Jalan Raya Bungah I/02 Nomor 59, Abdullah Attamimi Jalan Pahlawan Gapurosukolilo kecamatan Gresik,H.Fauzi Klangonan Rt 06, Rw 02 , dan masih ada beberapa lainnya

Sumber : "Studi Tentang Sajian Bubur Harisah Sebagai Makanan Khas Haul Mbah Sholih Tsani Di Pondok Pesantren Qomaruddin Sampurnan Bungah Gresik" disusun oleh RIZKA AULIA, RIZKA AULIA, NIKEN PURWIDIANI, 
e jurnal UNESA


  • http://ejournal.unesa.ac.id/index.php/jurnal-tata-boga/article/view/12615
  • afifah wordpress
  • Buku Badhogan Gresik

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kampung Berwawasan Pendidikan Gresik

DASAR PEMIKIRAN Perubahan selalu dialami oleh semua, baik individu maupun organisasi, tidak ada satupun individu dan organisasi di dunia ini yang tidak mengalami perubahan, bahkan gelombang perubahan makin tak terbendung. Dengan kemajuan teknologi informasi, organisasi kini berada pada lingkungan dinamis dan penuh persaingan. Hal tersebut menuntut individu dan organisasi untuk menyesuaikan cara-cara berusaha dan mencapai tujuan yang diinginkan. The Constant is change , itulah bahasa yang tepat untuk menggambarkan sifat perubahan itu sendiri. seakan-akan mengikuti sabda alam, semua hal mengalami perubahan, apakah berangsur-angsur ataukah drastis. Perubahan itu dapat berupa perubahan kemampuan pengetahuan, perubahan mental, perubahan lingkungan dan yang jelas perubahan itu pasti terjadi mau tidak mau, suka tidak suka. Untuk itu sebagai bagian dari masyarakat sudah seharusnya melibatkan diri dalam usaha pencerahan, pemberdayaan, pendampingan, pengabdian bagi p...