Langsung ke konten utama

Mogok Kerja PT Smelting Gresik, Berdampak Pada 238 Ribu Pekerja Freeport

Keputusan PMA asal Jepang PT Smelting Gresik untuk melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 309 karyawannya dikarenakan mogoknya karyawan sejak tanggal 19 Januari 2017 hingga saat ini berimbas kepada berbagai sektor. 

Salahsatu imbas dari mogok kerja ini kini juga mengancam sekitar 238.000 pekerja PT.Freeport yang akan menganggur, pasalnya sejak beberapa hari lalu, Freeport juga tidak bisa mengirim 40 persen konsetratnya ke Gresik. 

Ada persoalan internal dan demo buruh di PT Smelting Gresik yang akhirnya smelter tidak beroperasi optimal. Akibatnya, 100 persen konsentratnya tidak bisa didistribusikan dan menggunung di gudang. "Sekarang warehouse kami sudah penuh. Dalam beberapa hari ke depan, kurang dari seminggu, PT Freeport Indonesia akan menghentikan operasinya," kata juru bicara PTFI Riza Pratama saat ditemui di Ambon, Kamis (9/2/2017). 

Tidak ada gunanya Freeport melanjutkan eksplorasinya, termasuk eksplorasi bawah tanah yang sedang dikembangkannya, karena tidak punya tempat lagi untuk menyimpan hasilnya. Satu-satunya jalan yang ia lakukan adalah menghentikan operasi. Bila langkah ini dilakukan Freeport, bukannya tanpa risiko. Risikonya besar: ada sekitar 238 ribu pekerja yang terancam kehilangan kesempatan kerja. Rinciannya, 38 ribu adalah pekerja internal Freeport dan 200 ribu adalah pekerja dari para partner Freeport. 

Dalam melakukan aktivitas penambangan di Tembagapura yang memang berbiaya tinggi, Freeport menggandeng banyak pihak. Dari penyewaan alat-alat berat, berbagai macam supplier, hingga katering. "Yang pertama kami akan lakukan tentu menghentikan kontrak dengan partner-partner. Otomatis partner-partner juga terdampak, karena pekerja-pekerja mereka terancam tidak punya pekerjaan," kata Riza. 

Sumber : Kumparan 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kampung Berwawasan Pendidikan Gresik

DASAR PEMIKIRAN Perubahan selalu dialami oleh semua, baik individu maupun organisasi, tidak ada satupun individu dan organisasi di dunia ini yang tidak mengalami perubahan, bahkan gelombang perubahan makin tak terbendung. Dengan kemajuan teknologi informasi, organisasi kini berada pada lingkungan dinamis dan penuh persaingan. Hal tersebut menuntut individu dan organisasi untuk menyesuaikan cara-cara berusaha dan mencapai tujuan yang diinginkan. The Constant is change , itulah bahasa yang tepat untuk menggambarkan sifat perubahan itu sendiri. seakan-akan mengikuti sabda alam, semua hal mengalami perubahan, apakah berangsur-angsur ataukah drastis. Perubahan itu dapat berupa perubahan kemampuan pengetahuan, perubahan mental, perubahan lingkungan dan yang jelas perubahan itu pasti terjadi mau tidak mau, suka tidak suka. Untuk itu sebagai bagian dari masyarakat sudah seharusnya melibatkan diri dalam usaha pencerahan, pemberdayaan, pendampingan, pengabdian bagi p...