Langsung ke konten utama

Cerita Keluarga Sederhana Achmad Soleh dan Jumaiah Berangkat Haji Tahun Ini

Kisah Pasutri Achmad Soleh, 58, dan Jumaiah, 54, asal Desa Bulurejo, Kecamatan Benjeng bisa jadi menjadi inspirsi banyak orang yang memimpikan pergi Haji. Walaupun rumah terlihat sederhana dan bekerja sebagai penjahit.Suami Istri ini berhasil naik haji tahun ini.



Tempat itu merangkap ruang tamu. Total luas rumah pasangan tersebut 4 x 10 meter. Tidak ada perabot yang mencolok. Selain empat mesin jahit, ada empat kursi kayu. Kondisinya sudah lapuk. Tua termakan usia. Busa kursi tidak utuh lagi. ’’Sehari-hari kami menjahit dan terima tamu di sini,’’ ucap Soleh. Di sampingnya terlihat Jumaiah. Wajahnya berbinar. Senyum bahagia mengembang. 

Soleh dan istrinya mendaftar haji pada Oktober 2010. Mereka menggunakan dana talangan dari sebuah bank syariah untuk uang muka. Nominalnya Rp 30 juta. Untuk membayar uang talangan, mereka nyicil. Per bulan Rp 1,5 juta. Awalnya memang terlihat mudah. Namun, ada saja ujiannya. Datang tanpa diduga. Sebulan setelah mendaftar haji, Soleh jatuh sakit. 

Dia harus menjalani operasi batu ginjal. Sebelas hari opname di RS Semen Gresik. Dia membayar sekitar Rp 21 juta. Akibatnya, mereka tidak mampu mengangsur talangan bank hingga enam bulan. ’’Saya sadar itu cobaan. Tapi, kami terus kuatkan diri. Yakin bisa,’’ tutur Soleh yang kini sudah punya dua cucu tersebut.

Dengan tekad yang kuat, mereka bangkit. Sabar dan tawakal. Setelah sembuh, rezeki ternyata berdatangan. Soleh mendapat orderan jahit pakaian seragam linmas di Benjeng. Sebagai istri, Jumaiah tidak tinggal diam. Dia juga belajar kepada sang suami. Mereka seiring sejalan menopang ekonomi keluarga. 

Kondisinya berbalik cepat. Hanya dalam sebelas bulan, Soleh dan Jumaiah mampu melunasi seluruh tanggungan. Termasuk biaya talangan dari bank untuk daftar haji. Bahkan, keduanya mampu melunasi biaya pelaksanaan ibadah haji (BPIH). Totalnya lebih dari Rp 62 juta. Semua dari hasil menjahit. Satu lagi yang patut menjadi inspirasi. Soleh dan Jumaiah masih sempat melanjutkan studi. 

Padahal, usia mereka sudah paro baya. Pada 2014 pasutri tersebut sama-sama mengikuti kelompok belajar. Di tengah mencari nafkah, mendidik anak, dan momong cucu, keduanya berhasil mendapatkan ijazah kejar paket C. Setara SMA. 

’’Rezeki tidak harus banyak. Yang penting berkah,’’ ungkapnya. Rezeki harta, ilmu, kesehatan, keselamatan, dan semua karunia berasal dari Tuhan Yang Mahakuasa. ’’Alhamdulillah Gusti Allah meridai doa kami,’’ tutur Soleh. Mereka tergabung dalam kloter 69. Terbang pada 9 Agustus 2018.


Sumber Jawa Pos

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kampung Berwawasan Pendidikan Gresik

DASAR PEMIKIRAN Perubahan selalu dialami oleh semua, baik individu maupun organisasi, tidak ada satupun individu dan organisasi di dunia ini yang tidak mengalami perubahan, bahkan gelombang perubahan makin tak terbendung. Dengan kemajuan teknologi informasi, organisasi kini berada pada lingkungan dinamis dan penuh persaingan. Hal tersebut menuntut individu dan organisasi untuk menyesuaikan cara-cara berusaha dan mencapai tujuan yang diinginkan. The Constant is change , itulah bahasa yang tepat untuk menggambarkan sifat perubahan itu sendiri. seakan-akan mengikuti sabda alam, semua hal mengalami perubahan, apakah berangsur-angsur ataukah drastis. Perubahan itu dapat berupa perubahan kemampuan pengetahuan, perubahan mental, perubahan lingkungan dan yang jelas perubahan itu pasti terjadi mau tidak mau, suka tidak suka. Untuk itu sebagai bagian dari masyarakat sudah seharusnya melibatkan diri dalam usaha pencerahan, pemberdayaan, pendampingan, pengabdian bagi p...