Langsung ke konten utama

Tafsir Baru Desa Morobakung

Cerita rakyat mengatakan bahwa penamaan desa Morobakung (Marabakung) terjadi dari hadirnya Kyai Qomaruddin ke daerah itu, kemudian diberilah nama Mara (datang) dan Bakung (Mbah Kakung), jadi hadirnya Kyai Qomaruddin (yang disebut mbah Kakung) ke wilayah itu kemudian disebut dengan desa Morobakung. 

Meskipun ada peninggalan makam kerabat beliau di daerah itu. Benarkah? Kali ini penulis mengajukan tafsiran baru. Merujuk pada arsip kuno ini, sesungguhnya desa Morobakung itu adalah nama desa baru, artinya baru ada setelah era modern awal abad 20. 

Dulu, desa itu hanya bernama desa Bakung (sesui peta garis ungu). Makna Bakung sendiri jika diartikan merupkan sebuah tumbuhan/bunga yang dapat digunakan sebagi obat. Tumbuhan ini dalam bahasa jawa disebut juga dengan bawang brojol/semur. Jadi, menurut hemat saya, desa itu diberi nama Bakung memang lebih karena wilayahnya dulu (sebelum babat alas) banyak ditumbuhi tanaman bakung/bawang brojol/semur. 

Nama tumbuhan ini kemudian dipakai oleh penduduk sebagai identitas wilayah. Lebih jauh lagi, nama desa dengan awalan kata "Mara (moro) justru penulis temukan agak ke timur degan nama desa Mara Gumeno. 
Tafsir Baru Desa Morobakung

Tafsir Baru Desa Morobakung

Tafsir Baru Desa Morobakung


Wilayah ini berbatasan dengan desa Pentjil (Pencil) dan desa Pedjangganan. Membandingkan arsip kuno peta lama dengan peta sekarang, maka dapat diidentifikasikan bahwa desa Mara Gumeno dan desa Pentjil itu kini telah hilang dan wilayahnya telah masuk ke dalam desa Pejangganan. 

Kemudian desa Bakung sendiri namanya telah berubah menjadi desa Marabakung. Atau bisa jadi ada sebuah penggabungan wilayah desa antara desa Mara Gumeno dengan desa Bakung, sehingga menjadi nama baru, yaitu desa Marabakung (diambil dari penggabungan kata/nama masing-masing desa pula). 

Yang menarik dari desa Bakung berikutnya yaitu adanya perubahan jalan utama desa. Peta lama menunjukkan bahwa desa ini sepenuhnya berada di sisi utara jalan, namun kini jalan raya itu telah dipindah ke sisi utara desa, sehingga membuat desa Bakung berada di sisi selatan. 

Hal ini nampak pada simbol jalan lama (warna kuning) dan perubahannya di jalan baru (warna orange). Satu hal lagi....Kyai Qomaruddin hidup di abad 18 sedangkan penamaan desa Morobakung (Marabakung) itu secara resmi baru ada pada abad 20, jadi selisihnya lebih dari 250 tahun. Jadi disini....dapat diterangkan bahwa desa Bakung itu muncul lebih lama (kuno) dan menjadi cikal bakal daripada desa Marabakung. Dan lagi...desa Bakung tentunya sudah ada (terbentuk) sebelum Mbah Kyai Qomaruddin hadir/datang ke situ. 

Gresik, 2 Juli 2019

Sumber Facebook Eko Jarwanto

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sempat Disuspensi karena Limbah, 4 Dapur Makan Bergizi Gratis di Gresik Akhirnya Diizinkan Beroperasi Kembali setelah Renovasi Kilat

INIGRESIK.COM - Pelaksanaan program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Gresik , Jawa Jawa Timur, sempat diwarnai penghentian sementara operasional pada delapan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG sejak awal pekan ini. Langkah tegas berupa pembekuan (suspend) tersebut diambil oleh Badan Gizi Nasional (BGN) karena fasilitas pendukung di delapan titik tersebut kedapatan belum memenuhi standar teknis lingkungan hidup yang dipersyaratkan.  Meski sempat memicu kekhawatiran terkait keberlangsungan pasokan makanan untuk anak-anak sekolah, perbaikan cepat langsung dilakukan oleh para pengelola di lapangan. Per hari ini, Jumat, 5 Juni 2026, empat dari delapan SPPG yang sempat disuspensi tersebut dipastikan sudah mengantongi surat pencabutan suspend dan diizinkan kembali beraktivitas normal melayani kebutuhan gizi masyarakat. Kebijakan penghentian sementara ini murni didasari oleh komitmen pemerintah dalam menjaga kualitas lingkungan di sekitar lokasi produksi...