Langsung ke konten utama

Hanyut 131 Meter, Pemancing 23 Tahun yang Tenggelam di Kali Lamong Ditemukan Meninggal Dunia Setelah 2 Hari Pencarian



INIGRESIK.COM - Duka mendalam menyelimuti warga Romokalisari, Surabaya. Setelah melalui proses pencarian intensif yang menegangkan selama hampir dua hari, Lukman Hakim (23), seorang pemancing yang dilaporkan tenggelam di Sungai Kali Lamong, akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada Selasa pagi, 9 Juni 2026. Penemuan ini mengakhiri pencarian besar-besaran yang melibatkan puluhan personel tim SAR gabungan sejak awal pekan ini.

Jasad pemuda tersebut berhasil dievakuasi dari aliran sungai yang menjadi batas wilayah antara Kabupaten Gresik dan Kota Surabaya. Titik penemuan korban berada sekitar 131 meter dari lokasi pertama kali ia dilaporkan hilang terseret arus pada Senin, 8 Juni 2026. Penemuan ini langsung dikonfirmasi oleh otoritas terkait yang memimpin langsung jalannya operasi di lapangan.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Surabaya, Nanang Sigit P.H., selaku SAR Mission Coordinator (SMC), menjelaskan bahwa penemuan korban bermula dari laporan warga yang melihat sesosok jenazah mengapung dengan ciri-ciri pakaian yang dikenakan korban saat terakhir kali terlihat. Informasi cepat dari masyarakat pesisir sungai ini menjadi kunci krusial bagi tim di lapangan.

Sekitar pukul 05.30 WIB, tim SAR gabungan langsung bergerak cepat menuju lokasi yang dilaporkan untuk melakukan evakuasi. Proses evakuasi berjalan lancar berkat kesiapan armada yang bersiaga sejak subuh. Setelah dipastikan identitasnya oleh pihak medis dan keluarga, atas permintaan langsung dari pihak keluarga, jenazah Lukman Hakim langsung dibawa ke rumah duka untuk proses pemakaman.

Kilas balik dari insiden memilukan ini bermula pada Senin pagi ketika korban sedang menyalurkan hobinya memancing di tepian Kali Lamong. Karakteristik sungai yang memiliki kedalaman tidak merata dan arus bawah yang terkadang mengecoh diduga menjadi faktor penyebab korban kehilangan keseimbangan hingga akhirnya tenggelam.

Sejak laporan kedaruratan diterima oleh pusat komando, tim SAR gabungan tidak membuang waktu dan langsung mengerahkan berbagai metode pencarian komprehensif. Operasi ini menjadi perhatian publik mengingat Kali Lamong dikenal memiliki vegetasi pinggiran yang lebat dan kontur dasar sungai yang berlumpur tebal.

Penyisiran di permukaan sungai dilakukan secara masif hingga menjangkau radius sekitar satu kilometer dari titik nol hilangnya korban. Tidak hanya mengandalkan pemantauan visual dari atas perahu, petugas juga menerjunkan tim penyelam khusus yang memiliki kualifikasi penyelamatan air untuk menyisir area dasar sungai secara manual.

Guna memaksimalkan upaya di area-area yang sulit dijangkau oleh penyelam karena faktor visibilitas air yang keruh, tim di lapangan memperkuat strategi dengan melakukan manuver perahu karet. Gerakan memutar secara konstan ini sengaja dilakukan untuk menciptakan gelombang buatan di air. Teknik ini diharapkan dapat mengangkat tubuh korban yang mungkin tersangkut di dasar sungai agar bisa naik ke permukaan.

Skala operasi yang besar ini berhasil digerakkan berkat sinergi yang solid antarinstansi. Pencarian ini melibatkan berbagai unsur penting, mulai dari kekuatan internal Basarnas Surabaya, personel BPBD Gresik, BPBD Surabaya, jajaran TNI-Polri, tim medis PMI, satuan Polairud, hingga puluhan relawan organisasi kemanusiaan serta masyarakat lokal yang sangat memahami karakteristik arus Kali Lamong.

Keterlibatan aktif warga sekitar dalam memberikan informasi harian dan memantau pergerakan air terbukti memberikan dampak signifikan terhadap efektivitas pergerakan tim rescue. Kolaborasi antara teknologi penyelamatan modern dan kearifan lokal warga pinggiran sungai menjadi faktor penentu cepatnya titik terang kasus ini ditemukan.

Dengan ditemukannya jasad korban pada Selasa pagi ini, operasi pencarian di Kali Lamong secara resmi dinyatakan ditutup. Seluruh personel yang terlibat kemudian melakukan agenda debriefing di posko taktis untuk mengevaluasi jalannya operasi sebelum kembali ke satuan masing-masing. Jenazah pun telah sepenuhnya diserahterimakan kepada pihak keluarga yang tampak terpukul atas kehilangan anggota keluarga mereka di usia yang masih sangat muda.

Nanang Sigit P.H. menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh unsur yang terlibat tanpa lelah dalam proses pencarian dari hari pertama. Ia juga berterima kasih kepada masyarakat yang terus memberikan dukungan moral serta logistik selama operasi darurat ini berlangsung di perbatasan dua wilayah tersebut.

Peristiwa tragis ini sekaligus menjadi alarm pengingat bagi masyarakat luas, khususnya para pencinta aktivitas memancing, untuk selalu meningkatkan kewaspadaan ekstra saat beraktivitas di sekitar aliran sungai besar. Kondisi cuaca yang tidak menentu dan perubahan arus sungai yang mendadak menuntut kesadaran mandiri akan pentingnya penggunaan alat keselamatan, seperti pelampung, demi mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Nama Desa "Karangpoh"

Karangpoh Penamaan desa karangpoh hampir mirip dengan sejarah Penamaan desa Karangturi . Dahulu diceritakan dalam buku berjudul "Sekelumit asal usul nama desa" yang ditulis oleh Loemaksono menceritakan Daerah disekitar Gresik banyak pohon Mangga. Pohon ini dijaga dengan baik oleh masyarakat disana dan dijadikan sebagai mata pencaharian  Penamaan Karang Poh ini tidak lepas dari proses berbuah pohon mangga yang senantiasa mengeluarkan bau harum ketika mulai ranum. Orang jawa menyebut buah mangga yang mulai ranum ini dengan " poh" . Ketika kulit poh yang mulai menguning inilah para petani mulai memanennya. dan dikumpulkan kedalam wadah besar yang terbuat bernama bojog .  Sebagai pegingat dan kenang kenangan tempat ini sekarang dinamai Karang Poh.yang berarti tempat atau hunian yang banyak dijumpai pohon mangga dan orang berjualan poh. Kondisi sekarang tentu sudah banyak berubah kita akan sangat sulit menemukan pohon mangga disana, hanya dibeberapa rumah pe...