Kalah Duel Berujung Sabetan Celurit di Jalan Dinoyo Surabaya: 2 Pelaku Cemburu Buta Diringkus Polisi Usai Kabur ke Madura
INIGRESIK.COM - Aksi pembacokan brutal yang menimpa seorang mahasiswa berinisial RFSA (26) di Jalan Dinoyo, Surabaya, akhirnya menemui titik terang setelah Kepolisian Sektor Tegalsari berhasil meringkus dua orang pelaku utama. Peristiwa berdarah yang sempat terekam kamera warga dan viral di berbagai platform media sosial tersebut ternyata berlatar belakang asmara, cemburu buta, serta dendam kesumat. Kedua pelaku nekat menganiaya korban secara sadis di tengah jalan protokol setelah salah satu dari mereka kalah telak dalam duel satu lawan satu yang sempat terjadi sebelumnya.
Aparat kepolisian bergerak cepat melacak keberadaan para tersangka yang sempat buron dan bersembunyi di wilayah Madura untuk menghindari kejaran petugas. Dua pemuda yang kini telah ditetapkan sebagai tersangka tersebut adalah AM, seorang warga yang berdomisili di Jalan Sawah Pulo Tengah, Kecamatan Semampir, Surabaya, serta rekannya MRA, warga Jalan Wonosari Wetan, Kecamatan Semampir, Surabaya. Keduanya kini mendekam di sel tahanan Markas Kepolisian Sektor Tegalsari untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka yang telah meresahkan masyarakat Kota Pahlawan.
Kasihumas Kepolisian Resor Kota Besar Surabaya, AKP Hadi Ismanto, mengungkapkan bahwa insiden tragis ini bermula dari persoalan asmara yang melibatkan seorang perempuan. Tersangka AM diketahui menaruh dendam dan rasa cemburu yang mendalam terhadap korban RFSA, seorang mahasiswa asal Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan, yang sedang menempuh studi di Surabaya. AM mencurigai bahwa korban masih menjalin komunikasi aktif dan memiliki kedekatan khusus dengan kekasihnya yang diketahui berinisial B.
Sebelum penganiayaan berat itu terjadi, tersangka AM berulang kali menghubungi korban melalui sambungan telepon untuk meminta klarifikasi mengenai hubungan asmara tersebut. Korban sebenarnya sudah menunjukkan iktikad baik dengan memberikan penjelasan secara jujur bahwa dirinya sudah sama sekali tidak memiliki hubungan spesial atau keterikatan apa pun dengan perempuan berinisial B. Kendati demikian, penjelasan logis dari korban tidak mampu meredam emosi AM yang sudah tersulut api cemburu, hingga pelaku terus memaksa dan menekan korban untuk segera bertemu secara langsung.
Pertemuan yang menegangkan tersebut akhirnya disepakati dan awalnya berlangsung di sekitar kawasan Jalan Dinoyo, Surabaya. Namun, karena situasi di lokasi pertama dirasa terlalu ramai dan tidak kondusif untuk menyelesaikan perselisihan, kedua belah pihak sepakat memindahkan lokasi pertemuan ke area yang jauh lebih sepi, tepatnya di kawasan belakang pusat perbelanjaan Marvell City Surabaya. Di lokasi yang minim penerangan dan sepi dari aktivitas warga inilah, tersangka AM mulai menunjukkan gelagat aneh dan langsung mengeluarkan sebilah senjata tajam jenis celurit yang sudah dipersiapkannya dari rumah untuk menantang korban berduel.
Melihat pelaku yang sudah gelap mata sambil memegang senjata tajam, korban RFSA sempat mencoba menenangkan situasi dan meminta agar persoalan asmara ini diselesaikan dengan kepala dingin tanpa perlu menggunakan kekerasan fisik maupun senjata tajam yang membahayakan nyawa. Korban yang menolak menggunakan senjata akhirnya bersedia meladeni tantangan pelaku dengan tangan kosong demi menyelesaikan masalah malam itu juga. Duel fisik secara terbuka antara korban RFSA dan tersangka AM pun tidak terhindarkan lagi di lokasi tersebut hingga berlangsung cukup sengit selama kurang lebih 30 menit.
Dalam perkelahian satu lawan satu itu, tersangka AM ternyata tidak mampu mengimbangi ketahanan fisik korban hingga dirinya terjatuh, mengalami luka lebam yang cukup parah di bagian wajah, serta mengalami pendarahan hebat atau mimisan pada hidungnya. Merasa malu, terhina, dan tidak terima atas kekalahan memalukan dalam duel tersebut, amarah AM justru semakin memuncak dan berubah menjadi dendam yang membara. AM kemudian bersekongkol dengan rekannya, MRA, yang sejak awal sudah ikut memantau situasi, untuk merencanakan aksi balasan yang jauh lebih kejam guna melukai korban yang saat itu hendak meninggalkan lokasi kejadian.
Korban yang merasa urusan sudah selesai langsung mengendarai sepeda motornya untuk pulang, namun kedua pelaku segera membuntuti dan mengejar korban dengan kecepatan tinggi. Setibanya di kawasan Jalan Dinoyo yang menjadi lokasi kejadian kedua, sepeda motor korban dipepet secara agresif oleh kedua pelaku hingga korban kehilangan keseimbangan dan terpaksa menghentikan kendaraannya. Sadar dirinya berada dalam ancaman bahaya besar karena pelaku kembali mengacungkan celurit, mahasiswa asal Lamongan tersebut langsung turun dari motor dan berusaha menyelamatkan diri dengan cara berlari sekencang-kencangnya ke arah pemukiman warga.
Langkah kaki korban kalah cepat dengan pergerakan kedua pelaku yang sudah dirasuki setan cemburu dan dendam kesumat. Korban berhasil dikejar dan dikepung di pinggir jalan, di mana kedua pelaku tanpa ampun langsung melayangkan pukulan bertubi-tubi serta sabetan senjata tajam jenis celurit ke arah tubuh korban. Akibat serangan brutal dan membabi buta tersebut, korban RFSA langsung terkapar tidak berdaya di atas trotoar jalan dengan kondisi bersimbah darah akibat luka robek yang cukup serius di beberapa bagian tubuhnya, sementara kedua pelaku langsung memacu motor mereka untuk melarikan diri dari tempat kejadian perkara.
Beruntung bagi korban, beberapa pengguna jalan dan pengendara yang kebetulan melintas di Jalan Dinoyo melihat tubuhnya yang terkulai lemas dalam kondisi kritis di pinggir jalan. Warga yang melintas segera menghentikan kendaraan mereka untuk memberikan pertolongan pertama secara darurat dan langsung mengevakuasi mahasiswa malang tersebut ke rumah sakit terdekat dengan menggunakan kendaraan roda empat agar segera mendapatkan perawatan medis intensif dari tim dokter. Respons cepat dari masyarakat dan pihak medis ini berhasil menyelamatkan nyawa korban dari risiko fatal akibat kehabisan darah di lokasi kejadian.
Setelah menerima laporan resmi mengenai aksi kekerasan jalanan yang sempat meresahkan warga Surabaya tersebut, Tim Reserse Kriminal Polsek Tegalsari langsung melakukan olah tempat kejadian perkara dan memeriksa sejumlah saksi mata di lokasi. Polisi bergerak cepat mengidentifikasi identitas kedua pelaku berdasarkan petunjuk dan rekaman video yang beredar luas di jagat maya. Mengetahui bahwa diri mereka sedang diburu oleh petugas kepolisian, AM dan MRA sempat melarikan diri keluar dari wilayah Kota Surabaya dan menyeberang ke Pulau Madura untuk bersembunyi di sebuah lokasi terpencil.
Pelarian kedua pemuda ini akhirnya kandas setelah tim buser Polsek Tegalsari berhasil mengendus keberadaan mereka di tempat persembunyiannya di Madura. Tanpa perlawanan berarti, kedua tersangka langsung diringkus petugas dan dibawa kembali ke Surabaya untuk menjalani proses pemeriksaan hukum lebih lanjut. Di hadapan tim penyidik, tersangka AM akhirnya mengakui semua perbuatan brutalnya dan menyatakan penyesalannya yang mendalam, seraya mengonfirmasi bahwa seluruh tindakan keji tersebut murni dipicu oleh rasa cemburu buta karena menduga kekasihnya masih memiliki hubungan asmara tersembunyi dengan korban.
Kepada polisi, tersangka AM juga mengakui bahwa dirinya merasa sangat sakit hati dan dendam setelah menderita kekalahan telak saat berduel fisik dengan korban di belakang kawasan Marvell City. Tersangka menyebutkan bahwa kondisi wajahnya sudah bengkak dan hidungnya terus mengeluarkan darah akibat pukulan korban, yang membuatnya gelap mata hingga nekat mengajak MRA untuk mengejar dan membacok korban menggunakan celurit di Jalan Dinoyo. Kasus kekerasan jalanan ini menjadi peringatan keras bagi masyarakat mengenai bahaya nyata dari luapan emosi sesaat dan cemburu buta yang tidak terkendali, yang pada akhirnya hanya akan berujung pada penderitaan korban jiwa dan ancaman hukuman penjara yang sangat lama bagi para pelaku kriminalitas.

Komentar
Posting Komentar